Mahabarata dari Kurusetra sampai jaman Kaliyuga

Posted by I Made Surya Adnyana on 8:39 AM with No comments

Menonton Mahabharata di televisi memang tak pernah membosankan. Babak ketika panah-panah Arjuna yang bagaikan senapan sniper hingga Brahmastra yang setara dengan ribuan kali kekuatan bom atom selalu mengundang decak kagum siapapun yang menyimaknya. Mata seakan tidak berkedip melihat bagaimana para pasukan Pandawa dan Kaurava saling tikam di meda perang. Walaupun adegan-adegan tersebut hanya rekaan dalam film, nuansa keasliannya sangat terasa. Ketika TV dimatikan, para pemirsa mulai kembali ke alam pikirannya semula. Sungguh sulit membayangkan bahwa di masa lalu ada peradaban sehebat itu dengan teknologi perang yang bercampur dengan kekuatan mistik yang ajaib. Karena itu tak jarang ada menganggap Mahabharata adalah cerita fantasi dari masa lalu dan tidak ada hubungannya dengan sejarah versi modern.

Anggapan sebagian orang bahwa Mahabharata adalah kisah fiksi bisa saja karena jarak waktu yang sangat jauh sehingga bukti2 fisik mengenai Mahabharata tidak banyak dikenal. Jangankan Mahabharata yang terjadi lima ribu tahun silam, Kerajaan Kalingga yang konon berada di Jawa Tengah pada abad keempat masehi pun diragukan walaupun banyak naskah kuno yang menyebutkan keberadaannya.
Hal yang sama terjadi pada Mahabharata. Walaupun kitab suci Veda menyebutkan bahwa kisah tersebut adalah itihasa “seperti itulah yang terjadi”, kalangan skeptis masih meragukan kebenaranya. Maharsi Vyasa, acarya terbesar umat Hindu, telah mengisahkan Mahabharata dengan sangat mendetail bagi kemujuran manusia di jaman Kaliyuga ini. Mahabharata adalah sebuah kisah sejarah dan pada saat yang sama sejarah ini menggambarkan kehidupan manusia yang penuh dengan intrik dan perseteruan. Dengan belajar dari sejarah Mahabharata, umat manusia dapat menentukan ke mana peradaban dunia modern ini harus di arahkan demi kehidupan yang lebih baik.
Telah lima puluh abad (5.000 tahun lebih) berlalu sejak Mahabharata terjadi. Kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa Mahabharata berakhir ketika ke lima Pandawa meninggalkan kerajaan mereka dan pulang ke dunia rohani. Atau, Mahabharata berakhir ketika Sri Krishna kembali ke kediaman-Nya di dunia rohani dan membuat Kota Dvaraka tenggelam. Di film-film pun di kisahkan bahwa Mahabharata berakhir begitu saja setelah kakek Bhisma berpulang, dan sangat sedikit yang mencoba menelusuri jejak kelanjutan sejarah ini.

Mungkin satu babak sejarah Mahabharata berakhir ketika kakek Bhisma berpulang, atau ketika para Pandawa meninggalkan Hastinapura untuk melakukan pertapaan menjelang ajal mereka. Namun itu hanyalah awal dari sebuah periode baru Mahabharata. Episode setelah pernag Kuruksetra menjadi babak sejarah misterius yang menghubungkan peradaban Mahabharata dengan peradaban yang dikenal saat ini. Selama tiga ribu tahun sisa-sisa kejayaan Mahabharta telah membentuk cikal-bakal peradaban dunia modern. Kitab suci Bhavisya Purana, Narasimha Purana, dan bagian akhir dari kitab Mahabharata itu sendiri mengisahkan beberapa babak sejarah yang penting setelah perang Kuruksetra. Semua peristiwa tersebut dapat dirangkai dalam sebuah garis waktu dan dibandingkan dengan temuan-temuan para sejarawan modern. Beberapa peristiwa penting setelah Perang Kuruksetra dapat dirangkai sebagai berikut :

# 3108 SM – KALIYUGA DIMULAI

Tiga puluh enam tahun setelah perang di Kuruksetra, para Pandawa memutuskan untuk pensiun dari tugas kerajaan dan menyerahkan singasana kepada Maharaja Pariksit, cucu Arjuna. Maharaja Pariksit memerintah planet bumi sebagaimana pendahulunya sejak jaman lampau. Pada saat itu, di bumi hanya ada satu penguasa tungggal di Hastinapura, dan raja-raja dari berbagai bangsa tunduk kepada kekuatan Hastinapura. Di bagian barat dunia, Maharaja Pariksit menyerahkan daerah kekuasaan kepada cucunya, Tejasi, sehingga Tejasi menjadi leluhur dan penguasa raja-raja Yunani, Romawi, Mesir dan wilayah Mediterania.
Dalam Bhagavata Purana dikisahkan bahwa suatu hari di seputaran tahun 3100 SM, Maharaja Pariksit sedang meninjau daerah kekuasaan di sepanjang Sungai Saraswati (yang kini telah lenyap). Maharaja bertemu dengan Kepribadian Kali (Kali-purusa) yang menguasai Jaman Kaliyuga. Kepribadian Kali ini berbeda dengan Dewi Kali.
Kali-purusa berkata bahwa zaman kekuasaannya telah tiba, namun Pariksit menukas bahwa selama beliau menjadi raja Bumi, Kali tidak bisa berkuasa. Pada saat itu, Maharaja Pariksit berniat menebas leher Kali dengan pedangnya sehingga Zaman Kali tidak perlu terjadi. Akan tetapi, dengan tipu muslihatnya Kali memohon empat tempat tinggal, yakni di tempat perjudian, mabuk-mabukan, rumah potong hewan dan di rumah pelacuran. Pada zaman itu, keempat tempat itu tidak ada karena Maharaja Pariksit begitu tegas menegakan dharma. Kali memohon satu tempat lagi, yaitu dimana ada cadangan emas.
Karena mahkota Maharaja Pariksit terbuat dari emas, Kali merasuki pikirannya dan membuat Maharaja Pariksit berbuat kesalahan kepada seorang brahmana. Putra brahmana ini mengutuk Maharaja Pariksit agar mati diggit ular Taksaka tujuh hari saat itu juga. Mendengar kutukan ini, Maharaja segera menyerahkan pemerintahan kepada putranya, Janamejaya, lalu melakukan pertapaan di tepi Sungai Gangga untuk menyambut kematiannya dengan ikhlas.
Selama tujuh hari berturut-turut, Maharaja Pariksit mendengar wejangan Veda Bhagavata Purana dari Rsi Sukadeva, putra Rsi Vyasa. Semua rsi agung dari berbagai planet turun ke bumi bersama para dewa untuk menemani Maharaja Pariksit yang bertekad berpuasa hingga ajalnya tiba. Pada akhir tujuh hari, ular Taksaka yang bersayap dan memiliki bisa berupa kobaran api datang dan bersiap menggigit Maharaja Pariksit. Namun ketika mulut Taksaka menyentuh badan Maharaja Pariksit, badan Maharaja seketika terbakar menjadi abu karena api dari kekuatan yoga-nya sendiri. Menurut uraian para acarya dari garis perguruan Veda, Maharaja Pariksit sesungguhnya tidak bisa dibunuh oleh Taksaka karena badan Maharaja dilindungi oleh perisai dari senjata gada Sri Krishna. Namun, untuk menghormati brahmana yang mengutuknya, Maharaja Pariksit rela membakar dirinya dengan api kekuatan yoga-nya. Ini adalah peristiwa unik yang tidak banyak diungkapkan dan diketahui.
Setelah Maharaja Pariksit berpulang. Kali yang licik mulai berkuasa di Bumi dan jumlah manusia yang tersesat dari jalan dharma semakin banyak.


# 3100 SM – SARPA-YAJNYA OLEH MAHARAJA JANAMEJAYA

Setelah kematian ayahnya oleh Taksaka, Maharaja Janamejaya berniat membalas dendam kepada bangsa ular. Beliau mengundang semua brahmana terbaik dan membuat sebuah yajnya api suci yang besar. Dengan kekuatan mantra, semua ular dipanggil oleh para brahmana untuk masuk dalam kobaran api. Hingga kini pun, para ular dapat ditundukan dengan pengucapan mantra tertentu.
Seakan terhipnotis, semua spesies ular yang ada, (baik besar maupun kecil) masuk kedalam kobaran api di arena korban suci. Kitab Bhagavata Purana menyatakan, dalam yajnya itu terdapat ular-ular raksasa yang panjangnya hingga beberapa mil dan bertubuh sangat besar. Ada pula ular dengan banyak kepala dan banyak warna.
Takut akan efek mantra brahmana, ular Taksaka meminta pertolongan pada Dewa Indra. Indra menilindungi Taksaka dalam pesawat luar angkasanya. Mendengar Taksaka dilindungi Indra, Maharaja Janamejaya meminta kepada para brahmana agar Indra beserta pesawatnya juga dimasukan ke dalam api. Akhirnya, guru kerohanian para dewa, Rsi Brhaspati, menghentikan yajnya itu dan menenangkan kemarahan Maharaja Janamejaya.
Kisah ini menggambarkan bahwa kekuatan manusia pada zaman sebelum zaman Kaliyuga dapat setara dan bahkan melebihi para dewa. Karena itu, tidak heran bahwa Veda kadang mengisahkan tentang seorang raja dari kalangan manusia yang menikah dengan seorang dewi atau bidadari dari surga. Ini lantaran kekuatan fisik dan kesucian manusia pada zaman itu sngat tinggi sehingga kedudukannya bisa sejajar dengan para dewa.

# 3000 SM – PEMISAHAN DIRI BANGSA-BANGSA DI DUNIA

Kekuasaan Hastinapura dilanjutkan oleh dua puluh tujuh raja setelah Janamejaya. Ini dijelaskan dalam Bhagavata Purana, Narasimha Purana dan dibagian akhir Mahabharata. Raja-raja tersebut terbagi dalam dua periode yakni periodeHastinapura dan peridode Kusambi. Raja Satanika, Asvamedhatta, dan Asimakrishna adalah tiga raja yang memerintah Hastinapura sebelum ibukota dipindahkan ke Kusambi oleh Raja Nemicakra akibat meluapnya Sungai Gangga pada 2600 SM. Raja Hastinapura yang memerintah pada periode Kusambi adalah Usna, Citraratha, Usnimat, Susena, Sunita, Rica, Nrcaksu, Sukhihala, Pariplava, Sunaya, Medhavin, Nrpanjaya, Mrdhu, Tigma, Brhadrata, Vasudhara, Satanika, Udayana, Aninara, Khandapani, Niramrta dan Ksemaka. Semua raja ini memrintah berturut-turut hingga sekitar 1500 tahun SM, dengan perhitungan setiap raja memerintah selama rata-rata 60 tahun.
Selama rentang waktu pemerintahan 27 raja ini, para rsi yang dipimpin olah Rsi Saunaka melakukan yajnya selama seribu tahun untuk meredam pengaruh buruk Kaliyuga. Dalam yajnya ini disabdakan Kitab Suci Bhavata Purana dan Mahabharata oleh Rsi Suta. Menurut Purana, Rsi Suta mengucapkan semua sloka Mahabharata hanya dalam satu hembusan napas.
“naimise nimisa-ksetre
Rsayah saunakadayah |
Sastram svargaya lokaya
Sahasra-samam asata” ||
(BP 1.1.4)
“Suatu ketika di tempat suci bernama Hutan Naimisaranya, para rsi agung yang dipimpin olah Rsi Saunaka berkumpul untuk melakukan korban suci besar selama seribu tahun demi kepuasan Tuhan dan para penyembah-Nya.”
Setelah seribu tahun yajnya ini berakhir dan efeknya mulai memudar, Kaliyuga mulai menguat dengan ditandai jatuhnya kekuasaan raja-raja ksatriya Hastinapura dan pecahnya dunia menjadi bangsa-bangsa yang berbeda.
Pada 2500 SM, Mesir mulai memisahkan diri, disusul Yunani, Asyira, Sumeria dan kerajaan-kerajaan di daerah Mediterania (Eropa selatan). Tak heran, semua peradaban itu memiliki kesamaan dengan peradaban Veda. Nama Sumeria berasal dari sumeru, sedangkan bangsa Yunani, Romawi dan Mesir masih mempraktikkan pemujaan kepada para dewa seperti Indra, Surya, Agni dan sebagainya. Lambat laun, nama-nama dewa ini mengalami perubahan karena terpisahnya hubungan bangsa-bangsa ini dengan India. Indra (Dyaus) menjadi Zeus (liat postingan tyang “DYAUS PITAR – BAPAK ANGKASA”), Ravi atau Surya menjadi Ra, Dewi Laksmi (hera) menjadi Dewi Hera, dan sebagainya.
Tahun 2400 SM bangsa Mesir terpisah dengan peradaban Veda. Ini dibuktikan dengan mulai munculnya Dinasti Khafre yang membawa Mesir dalam babak sejarah yang benar-benar baru. Kitab Kematian (The Book of The Dead) disusun pada masa ini, yang berisikan uaraian tentang perjalanan roh setelah kematian. Uniknya, apa yang dijelaskan dalam Kitab Kematian ini persis dengan uarian dalam kitab Garuda Purana, namun dengan nama-nama yang berbeda.
Tahun 1800 SM, Sumeria dan Asyira membentuk kerajaan Babilonia lama. Bangsa Babilomia pada awalnya memuja Surya Narayana sebagai ista-dewata, namun merosot karena putusnya hubungan dengan peradaban Veda di India selama berabad-abad.

#1700 SM – MLECCHA – YAJNYA OLEH RAJA PRADYOTA….
Bersambung…

Sumber : bisnis online dewata
Reaksi: